Beritaempire.com, Jakarta – Rupiah Terus Melemah Ini Akibatnya. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah bisa berdampak signifikan terhadap sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor.
“Sektor yang paling terdampak adalah sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor. Akan ada kenaikan harga bahan baku impor yang cukup signifikan karena pelemahan rupiah,” kata Nailul Huda
Menurut Nailul, dampaknya bisa terjadi imported inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor atau bahan baku impor. Misalkan tempe dan tahu yang lebih mahal karena kedelai impor.
Lebih lanjut, ia membeberkan beberapa faktor eksternal dan internal yang sama-sama berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Faktor eksternal pertama adalah sikap the Fed dan beberapa bank sentral lainnya yang menahan suku bunga acuan. Arus dolar akan kembali ke AS dan negara maju. Permintaan dolar akan meningkat.
Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan di global, khususnya timur tengah (Iran) membuat harga minyak menguat.
“Di tengah ketidakpastian yang tinggi, ada dua instrumen investasi yang cenderung aman, yaitu dolar AS dan emas,” ujarnya.
Faktor Internal
Sementara, untuk faktor internal adalah pengumuman kinerja APBN 2025 yang mencatatkan rapor merah. Dari sisi defisit fiskal yang membengkak memberikan sentimen negatif pada pengelolaan keuangan negara.
Belanja yang boros namun penerimaan yang seret membuat kekhawatiran terkait anggaran yang sustainable. Alhasil investor melihat pengelolaan yang buruk sebagai sentimen negatif.
“Kedua adalah hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal kita. Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan,” ujarnya.

Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar atau kurs rupiah di pasar spot sudah semakin mendekat Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah bank memasang kurs jual dan beli dolar AS di angka Rp 16.900 lebih pada Senin (19/1/2026).
Sebagai contoh Bank Central Asia (BCA), yang memasang kurs beli USD 1 sebesar Rp 16.913 pada Senin, 19 Januari 2026, pukul 10.01 WIB. Sementara kurs jual ditaruh pada Rp 16.933.
Tak beda jauh, kurs beli dolar AS di Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga dipatok Rp 16.911. Dengan kurs jual di kisaran Rp 16.938 per dolar AS.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” papar Erwin.
Akibatnya, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date per 13 Januari 2026. Pelemahan rupiah ini, menurut pantauan Mureks, sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, seperti won Korea yang melemah 2,46% dan peso Filipina yang terdepresiasi 1,04%.
Untuk menjaga stabilitas, Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia secara konsisten melakukan kebijakan stabilisasi. Hal ini dilakukan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Baca juga: Penjelasan Polisi Mengenai Kasus Masturbasi di TransJakarta
Stabilitas Rupiah
Selain itu, stabilitas rupiah juga didukung oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing. Tercatat, aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026. Ini mencerminkan persepsi positif investor global terhadap Indonesia. Yang terlihat dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
“Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” tambah Erwin.
Erwin menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-pasar guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, demi mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pencapaian sasaran inflasi, dan stabilitas nilai tukar rupiah.




