Pasar modal Indonesia mengawali pekan kedua tahun 2026 dengan fluktuasi yang sangat dramatis. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) di level psikologis 9.000, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah di posisi 8.884 pada Senin kemarin. Banyak investor ritel merasa panik karena penurunan ini terjadi secara mendadak, terutama pada sesi kedua perdagangan. Penyelidikan mengenai Penyebab IHSG Anjlok secara intraday hingga lebih dari 2% mengarah pada kombinasi antara ketegangan geopolitik global dan aksi ambil untung masif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kapitalisasi pasar menyusut cukup tajam dalam waktu singkat sebelum akhirnya sedikit pulih menjelang penutupan. Tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor menunjukkan adanya sensitivitas tinggi terhadap berita eksternal yang datang dari Amerika Serikat. Selain faktor global, dinamika di internal bursa sendiri turut memperparah kondisi pasar. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai faktor fundamental dan psikologis yang menjadi pemicu utama ambruknya indeks kebanggaan kita. Dengan memahami penyebabnya, investor diharapkan dapat mengambil langkah antisipasi yang lebih bijak di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
🌍 Ketegangan AS-Iran Jadi Penyebab IHSG Anjlok Secara Global
Faktor eksternal yang paling dominan menjadi Penyebab IHSG Anjlok adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, mengenai kemungkinan operasi militer sebagai respons atas demonstrasi di Iran memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka.
Pasar saham global, termasuk Indonesia, bereaksi negatif terhadap kabar ini karena ancaman gangguan pasokan energi dunia. Investor cenderung melakukan strategi risk-off, yaitu menarik modal dari aset berisiko seperti saham di pasar negara berkembang untuk dialihkan ke aset aman (safe haven). Hal ini terlihat dari lonjakan harga emas Antam yang menembus rekor baru serta penguatan Dollar AS dan Yen Jepang secara bersamaan. Ketidakpastian mengenai independensi Federal Reserve AS di bawah tekanan politik juga menambah beban psikologis bagi pelaku pasar. Akibatnya, arus keluar modal asing atau net sell mulai terlihat di beberapa saham berkapasitas besar (big caps). Ketegangan ini menciptakan efek domino yang membuat indeks bursa di Asia, termasuk IHSG, tertekan cukup dalam. Meskipun fundamental ekonomi domestik masih cukup solid, sentimen global sering kali memiliki pengaruh jangka pendek yang lebih kuat terhadap pergerakan angka di layar bursa.
Beberapa poin krusial terkait dampak geopolitik meliputi:
-
Potensi Kenaikan Harga Minyak: Kekhawatiran akan terganggunya jalur logistik di Timur Tengah.
-
Peralihan ke Safe Haven: Investor lebih memilih memegang emas di saat kondisi politik dunia memanas.
-
Depresiasi Rupiah: Tekanan pada nilai tukar seiring dengan menguatnya permintaan terhadap Dollar AS.
📉 Aksi Ambil Untung Saham Konglomerat dan Sentimen Domestik
Selain faktor global, faktor domestik yang menjadi Penyebab IHSG Anjlok adalah aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham milik konglomerat besar. Saham di bawah naungan Grup Prajogo Pangestu, seperti BREN, BRPT, dan TPIA, terpantau ambruk secara kolektif pada sesi kedua perdagangan Senin.
Saham-saham ini sebelumnya telah menjadi motor penggerak utama yang membawa IHSG menembus level 9.000. Namun, ketika target harga telah tercapai, banyak investor institusi mulai melakukan penjualan untuk merealisasikan keuntungan mereka. Tekanan jual yang terkonsentrasi pada emiten-emiten dengan kapitalisasi pasar raksasa ini secara otomatis menyeret indeks turun dengan sangat cepat. Selain itu, pasar juga sedang mengantisipasi pengumuman kebijakan baru mengenai perhitungan free float oleh MSCI yang dijadwalkan akhir Januari ini. Hal ini menciptakan sikap waspada di kalangan manajer investasi yang mulai menyesuaikan komposisi portofolio mereka. Ketidakmampuan IHSG untuk bertahan lama di atas level psikologis 9.000 memicu reaksi berantai berupa panic selling di kalangan investor ritel. Volume transaksi yang mencapai Rp40,1 triliun menunjukkan betapa masifnya perpindahan tangan saham selama periode penurunan tersebut. Fenomena ini membuktikan bahwa psikologi pasar masih sangat rentan terhadap koreksi teknis setelah mengalami reli panjang sejak awal tahun.
[Tabel: 5 Saham Penekan Utama IHSG per 12 Januari 2026]
| Kode Saham | Emiten | Pergerakan Harga | Dampak ke Indeks (Poin) |
| BREN | Barito Renewables Energy | -5.01% | -19.79 |
| BRPT | Barito Pacific | -7.01% | -13.29 |
| PTRO | Petrosea | -6.43% | -4.42 |
| TPIA | Chandra Asri Pacific | -3.35% | -4.15 |
| ASII | Astra International | -1.58% | -3.20 |
🧭 Proyeksi Pasar: Apakah Tren Bullish Masih Berlanjut?
Meskipun Penyebab IHSG Anjlok terlihat cukup kompleks, sebagian besar analis masih optimis mengenai prospek pasar saham Indonesia untuk jangka menengah. Penurunan yang terjadi kemarin lebih dilihat sebagai koreksi sehat atau “bernapas sejenak” setelah kenaikan yang terlalu cepat.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam saluran tren naik (bullish trend) selama indeks mampu bertahan di atas level dukungan (support) kuat di kisaran 8.700 – 8.800. Data ekonomi dalam negeri seperti pertumbuhan penjualan ritel sebesar 6,3% menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik. Namun, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan keluar dalam waktu dekat. Jika ketegangan di Iran mereda, maka peluang bagi IHSG untuk kembali melakukan rebound menuju level 9.100 tetap terbuka lebar. Strategi yang paling bijak saat ini adalah melakukan buy on weakness pada saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat dan telah terdiskon cukup dalam. Hindari pengambilan keputusan berdasarkan kepanikan sesaat agar portofolio Anda tidak mengalami kerugian yang tidak perlu.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Penyebab IHSG Anjlok pada awal pekan ini merupakan kombinasi dari “badai sempurna” antara geopolitik global dan dinamika pasar domestik. Rencana militer AS terhadap Iran menjadi pemicu awal yang merusak selera risiko investor secara global. Di sisi lain, aksi ambil untung pada saham-saham penggerak indeks seperti Grup Barito mempercepat jatuhnya posisi IHSG dari level tertingginya. Meskipun koreksi ini terasa menyakitkan, hal ini merupakan bagian alami dari mekanisme pasar saham yang tidak mungkin terus naik tanpa hambatan. Penting bagi kita sebagai investor untuk tetap tenang dan terus memantau perkembangan berita fundamental secara rutin. Fluktuasi adalah sahabat bagi mereka yang memiliki strategi investasi jangka panjang yang matang. Mari kita berharap stabilitas politik global segera membaik agar iklim investasi di Indonesia kembali kondusif. Tetaplah disiplin dalam menjaga manajemen risiko Anda di setiap transaksi yang dilakukan.
Baca juga:




