Beritaempire.com, Jakarta – Amerika Serikat Adakan Sayembara Temukan Mojtaba Khamenei. Amerika Serikat( AS) mengadakan sayembara senilai 10 juta dolar AS untuk siapa juga yang membagikan data tentang posisi pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Tawaran itu di informasikan lewat program Rewards for Justice kepunyaan Kementerian Luar Negara AS pada Jumat.
” Rewards for Justice menawarkan hadiah sampai 10 juta dolar AS( dekat Rp 169, 5 miliyar) buat data tentang para pemimpin kunci Korps Garda Revolusi Islam Iran( IRGC) serta cabang- cabang komponennya,” kata RFJ dalam suatu statment, dikutip Antara, Sabtu( 14/ 3/ 2026).
Tidak hanya Mojtaba Khamenei, nama yang masuk dalam catatan tersebut antara lain Wakil Kepala Staf Kantor Pemimpin Paling tinggi Ali Asghar Hejazi, penasihat Ali Larijani, Menteri Dalam Negara Eskandar Momeni, dan Menteri Intelijen Esmail Khatib.
” Individu- individu ini mengetuai serta memusatkan bermacam elemen IRGC, yang merancang, mengendalikan, serta melakukan terorisme di segala dunia.”
Iran Janji Balas Keras Bila AS Bunuh Mojtaba Khamenei
Duta Besar Iran buat Rusia, Kazem Jalali menegaskan, Iran hendak membagikan balasan keras bila Amerika Serikat berupaya menewaskan Mojtaba Khamenei.
Statment itu di informasikan Jalali dikala ditanya menimpa mungkin upaya AS serta Israel menargetkan Mojtaba. Ia menegaskan kalau serbuan Iran yang terjalin dikala ini ialah bagian dari respons atas terbunuhnya Pemimpin Paling tinggi Iran lebih dahulu, Ali Khamenei.
” Kamu lagi memandang asumsi Iran hari ini.” ujarnya
Ia meningkatkan, rakyat Iran menuntut pembalasan atas kematian pemimpin mereka. Baginya, kemarahan publik di Iran terus memuncak semenjak tewasnya Ali Khamenei. Jalali juga memperingatkan kalau Amerika Serikat hendak mengalami konsekuensi berat atas peristiwa tersebut.
“ Kami menginginkan pembalasan darah buat pemimpin kami. Rakyat marah serta menuntut pembalasan atas pertumpahan darah. Amerika sudah serta hendak mengalami pembalasan yang berat di masa depan,” tegasnya.
Perang AS- Israel vs Iran
Ketegangan bertambah sehabis pada 28 Februari Amerika Serikat serta Israel melancarkan serbuan ke beberapa sasaran di Iran, tercantum di Teheran. Serbuan itu memunculkan kehancuran besar, korban sipil, dan membunuh Pemimpin Paling tinggi Iran Ali Khamenei.
Iran setelah itu membalas dengan melanda daerah Israel serta sarana militer AS di kawasan Timur Tengah.
Sepeninggal Ali Khamenei, putranya, Mojtaba Khamenei, diseleksi selaku pemimpin baru Iran. Sampai saat ini, otoritas Iran belum mengumumkan pergantian lain dalam struktur kepemimpinan militer negeri tersebut.
Sedangkan itu, AS serta Israel awal mulanya menyebut serbuan mereka selaku langkah“ pendahuluan” buat mengalami ancaman dari program nuklir Iran. Tetapi setelah itu keduanya secara terbuka melaporkan tujuan yang lebih besar, mendesak terbentuknya pergantian rezim di Iran.

Amerika Serikat sendiri sudah lama menetapkan IRGC selaku organisasi teroris asing. Washington pula menuduh Iran ikut serta dalam bermacam serbuan yang membunuh masyarakat negeri Amerika.
Tidak hanya itu, AS menuding Iran sempat merancang upaya pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump selaku balasan atas kematian komandan militer Iran, Qassem Soleimani, yang tewas dalam serbuan AS pada 2020.
Di sisi lain, pemerintah Iran menolak segala tuduhan tersebut. Teheran secara tidak berubah- ubah menyebut tudingan terorisme dari Amerika Serikat selaku serbuan politik yang tidak berdasar.
Pemerintah Iran pula memperhitungkan klaim tersebut sering digunakan Washington buat membetulkan kebijakan tekanan politik serta sanksi ekonomi terhadap negeri tersebut.
Baca juga: Kasus Penyiraman Air Keras Andrie: Luka Bakar Mencapai 24 Persen
Statment Keras Khamenei
Statment keras Khamenei pula diperkirakan tidak hendak diterima dengan baik oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump dalam sebagian hari terakhir menekankan kalau Iran hendak menjajaki jalan semacam Venezuela dengan memilah pemimpin yang bersedia penuhi tuntutan Washington.
Sedangkan itu, dosen keamanan internasional di Kings College London, Rob Geist Pinfold, memperhitungkan statment awal Mojtaba Khamenei menampilkan kalau Iran tidak mengganti perilaku dasarnya.
” Alih- alih semacam yang bisa jadi diharapkan pemerintahan Trump, semacam pergantian retorika dari pemimpin paling tinggi yang baru, yang sesungguhnya kita dengar di mari merupakan lebih dari perihal yang sama,” kata Pinfold.
Walaupun menuai kritik dari beberapa analis, sebagian golongan di Iran malah menyongsong positif pesan yang di informasikan Khamenei.
Zohreh Kharazmi, akademisi di University of Tehran, berkata banyak masyarakat Iran mengapresiasi perilaku tegas tersebut di tengah ancaman dari AS.
Baginya, pesan itu ditatap selaku perilaku berani dari pemimpin baru Iran.
” Keamanan yang berkepanjangan merupakan hak sangat bawah dari suatu bangsa,” kata Kharazmi.” Khamenei mengantarkan posisi yang sangat legal yang didukung oleh jutaan masyarakat Iran di mari.”




