Rupiah Melemah Segini Posisinya Per 18 Desember 2025. Nilai tukar rupiah bergerak melemah pada penutupan perdagangan hari ini Kamis 18 Desember 2025. Kurs rupiah melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi 16.723 per dolar AS dari sebelumnya 16.694 per dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi ketidakpastian mengenai perekonomian AS yang meningkat pada pekan ini.
“(Hal ini) terutama karena data resmi pemerintah memberikan sinyal yang beragam mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve juga memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut,” ujarnya, dikutip dari Antara, Kamis (18/12/2025).
Kini, pasar disebut menantikan inflasi inflasi indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) untuk mendapatkan petunjuk mengenai perekonomian di AS.
Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat, sementara CPI inti diprediksi tetap stabil di angka 3 persen per tahun.
“Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Fed untuk menyesuaikan kebijakan. Namun, selain suku bunga, pasar juga khawatir tentang potensi periode stagflasi bagi perekonomian AS – sebuah skenario di mana pengangguran meningkat seiring dengan inflasi,” kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.722 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.698 per dolar AS.
Rupiah Dibuka Loyo
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Kamis 18 Desember 2025. Dikutip dari Antara, kurs rupiah bergerak melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen menjadi 16.695 per dolar AS dari sebelumnya 16.694 per dolar AS.
Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan. Rupiah kembali melemah di level Rp 16.694 pada penutupan perdagangan Rabu, 17 Desember 2025. Nilai tukar rupiah lesu terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) tahan suku bunga 4,75%.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 16 poin sebelumnya sempat menguat 10 poin di level Rp 16.69. Dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.691,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).
Adapun pelemahan rupiah dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75% pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75% dan suku bunga lending facility di 5,5%.

BI menilai keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1%, upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ibrahim, BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 4,75%. Rapat Dewan Gubernur terakhir tahun 2025, sembari tetap waspada. Siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
<p>”Hal ini mempertimbangkan pelambatan inflasi dari 2,86 persen (yoy) menjadi 2,72% (yoy) pada November 2025. Tingkat inflasi ini juga masih berada di kisaran atas target BI sebesar 1,5-3,5 % dan relatif tinggi dibandingkan awal tahun,” ujarnya
Ketidakpastian ekonomi AS meningkat
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian mengenai perekonomian AS yang meningkat minggu ini, terutama karena data resmi pemerintah memberikan sinyal yang beragam mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve juga memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut.
“Pasar kini menantikan data inflasi indeks harga konsumen (CPI) yang akan datang untuk mendapatkan petunjuk mengenai perekonomian terbesar di dunia. Data tersebut diperkirakan akan menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat. Sementara CPI inti diperkirakan akan tetap stabil di angka tiga persen per tahun,” ungkap Ibrahim.
Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Fed untuk menyesuaikan kebijakan. Namun, selain suku bunga, pasar juga khawatir tentang potensi periode stagflasi bagi perekonomian AS. Sebuah skenario di mana pengangguran meningkat seiring dengan inflasi.
Bank Dunia kerek proyeksi pertumbuhan ekonomi RI
Di sisi lain, Ibrahim menyoroti Bank Dunia atau World Bank dalam rilis Desember 2025. Mengerek naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam ramalan terbarunya, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level lima persen pada 2025-2026. Sebagaimana proyeksi yang telah dilakukan pada 2023-2024. Lalu, pada 2027 baru akan mengalami pertumbuhan ke level 5,2 persen secara tahunan.
“Level pertumbuhan ini naik pesat dibanding proyeksi sebelumnya dalam IEP edisi Juni 2025 yang memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,7 persen pada 2025, 4,8 persen 2026, dan 5,0 persen pada 2027. Lebih rendah dari laju pertumbuhan 2024 di kisaran lima persen,” jelas Ibrahim.
Bank Dunia mendasari laju pertumbuhan di kisaran lima persen itu dari kinerja ekspor dan investasi yang kuat sepanjang tahun ini. Didukung oleh percepatan pengiriman ekspor dan meningkatnya permintaan global terhadap komoditas, khususnya minyak kelapa sawit, besi, baja, dan emas.
Baca juga: Polisi Tunjukkan Ijazah Asli Jokowi ke Roy Suryo cs di Gelar
Konsumsi Swasta yang Melemah
“Pertumbuhan tersebut didorong oleh investasi dan ekspor yang mampu mengimbangi tren konsumsi swasta yang sedikit melemah,” urai dia.
Bank Dunia juga menganggap kebijana moneter Bank Indonesia (BI) turut berkontribusi dalam percepatan pertumbuhan dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin (secara kumulatif sejak September 2024) menjadi 4,75 persen. Secara keseluruhan, Bank Dunia memperkirakan. Laju pertumbuhan lima persen pada 2025-2026 itu ditopang oleh kinerja ekspor. Mampu tumbuh tujuh persen pada 2025 dan 5,6 persen pada 2026. “Investasi akan tumbuh 6,1 persen pada 2025 dan 6,2 persen pada 2026. Sementara itu konsumsi swasta hanya tumbuh 4,9 persen, dan konsumsi pemerintah 0,1 persen serta makin cepat tumbuhnya pada 2026 menjadi 5,8 persen,” yakin Ibrahim. Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.720 per USD hingga Rp16.750 per USD,” jelas Ibrahim.




