Berita Empire

Update Berita Terbaru Setiap Harinya

AS Akan Turun Tangan Damaikan Kamboja - Thailand
BERITA TERKINI

AS Akan Turun Tangan Damaikan Kamboja – Thailand

Beritaempire.com, Jakarta – AS Akan Turun Tangan Damaikan Kamboja – Thailand. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengambil langkah terhadap kembali meletusnya konflik di perbatasan Thailand–Kamboja, setelah bentrokan bersenjata pecah lagi kurang dari dua bulan sejak gencatan senjata yang ia mediasi gagal dipertahankan.

Berbicara dalam sebuah rapat umum di Pennsylvania, Trump menegaskan kembali klaimnya soal kemampuan menciptakan stabilitas global, dikutip dari laman Guardian, Rabu (10/12/2025).

Ia menyebut telah “mengakhiri delapan perang dalam sepuluh bulan”, sambil merujuk pada ketegangan antara Kosovo–Serbia, Pakistan–India, hingga Israel–Iran.

Trump mengakui bahwa pertempuran kembali terjadi di wilayah sengketa di Asia Tenggara tersebut dan mengisyaratkan bahwa AS akan kembali turun tangan.

“Saya benci mengatakan ini, tapi Kamboja–Thailand dimulai lagi hari ini. Besok saya harus mengambil tindakan,” ucapnya di hadapan pendukung.

“Siapa lagi yang bisa mengatakan, ‘Saya akan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja’? Mereka bertikai lagi.”

Bentrokan mematikan meningkat sepanjang pekan ini di wilayah perbatasan yang disengketakan, dengan kedua negara saling menyalahkan atas pecahnya kembali konflik serta bertekad mempertahankan wilayah masing-masing. Lebih dari 500.000 orang dilaporkan mengungsi ke tempat aman di kedua sisi perbatasan sejak pertempuran kembali pecah.

Thailand Kritik Cara Trump Damaikan Perang dengan Kamboja Pakai Ancaman Tarif

Ancaman Trump tersebut berbuah Deklarasi Damai Kuala Lumpur yang diteken pemimpin kedua negara disaksikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Trump pada 26 Oktober lalu.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan kepada Reuters, tarif seharusnya tidak boleh digunakan untuk menekan negaranya sehingga terpaksa memulai perundingan damai dengan Kamboja.

Menurut Sihasak, Kamboja yang harus bertanggung jawab untuk meredakan konflik.

Konflik bersenjata sejak Senin (8/12/2025), yang sejauh ini telah menewkan 12 orang di kedua pihak, merupakan yang terburuk sejak perang 5 hari pada Juli. Saat itu Trump turun tangan dengan mengancam kedua negara, negosiasi untuk menurunkan tarif perdagangan akan dibekukan kecuali kedua pihak menghentikan permusuhan.

“Kami kira tarif tidak harus digunakan untuk menekan Thailand agar kembali ke deklarasi bersama, untuk kembali ke proses dialog,” kata Sihasak.”Anda harus memisahkan masalah hubungan Thailand-Kamboja dengan perundingan dagang,” ujarnya, menambahkan.

Konflik bersenjata terbaru ini meluas di sebagian besar garis perbatasan kedua negara yang panjangnya mencapai 817 km.

Trump belum mengomentari langsung pertempuran yang baru terjadi, namun Menlu AS Marco Rubio mengungkapkan keprihatinan pemerintahannya secara meminta kedua pihak untuk meredakan ketegangan dan kembali ke Deklarasi Damai.

Sihasak menegaskan, situasi saat ini dengan Kamboja tidak kondusif untuk dilakukan mediasi melibatkan pihak ketiga. Selain itu Kamboja harus menunjukkan ketulusan dan memulai untuk meletakkan senjata.

“Jika pihak lain merasa ingin benar-benar mengakhiri konflik, maka kami menunggu untuk mendengarkan apa yang mereka sampaikan,” ujarnya.

AS Akan Turun Tangan Damaikan Kamboja - Thailand
Beritaempire

Sengketa Batas

Sengketa batas sepanjang 800 km itu berakar dari penentuan garis demarkasi era kolonial. Klaim atas kompleks candi-candi kuno yang kerap memicu konflik bersenjata.

Kamboja maupun Thailand saling tuding. Eskalasi terbaru pada Selasa meluas ke lima provinsi di masing-masing negara. Di Kota Samraong, Kamboja bagian barat laut, dentuman artileri dari arah kompleks candi tua yang terletak di zona sengketa terdengar jelas.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan pemindahan besar-besaran warga dilakukan karena ancaman keselamatan yang dinilai semakin nyata.

“Lebih dari 400.000 warga telah kami pindahkan ke tempat aman. Kami ingin mencegah terulangnya serangan terhadap warga sipil seperti yang kami alami pada Juli 2025,” ungkapnya.

Di pihak Kamboja, juru bicara Kementerian Pertahanan Maly Socheata menyampaikan sebanyak 101.229 warga dievakuasi ke lokasi perlindungan maupun rumah keluarga di lima provinsi sejak Selasa malam.

Warga O’Smach, Lay Non, 55 tahun, yang bekerja sebagai petugas keamanan kasino, meninggalkan kota itu bersama keluarga. Ia merasa lebih tenang berlindung di kompleks wihara dekat patung Buddha besar.

“Pertempuran kali ini lebih keras. Pesawat Thailand menjatuhkan bom,” tuturnya.

Baca juga : 80 Lebih Korban Penipuan Wedding Organizer Ayu Puspita

Warga Thailand dihantui Ketakutan

Di Thailand, Pratuan Chuawong, petani yang tinggal kurang dari 500 meter dari perbatasan.. Kembali dihantui ketakutan serupa seperti pada pertempuran Juli lalu. Setelah insiden sebelumnya, warga desanya membangun bunker di area wihara untuk menghindari serangan artileri.

“Kali ini terasa lebih parah. Suara ledakan semakin keras tiap malam. Saya terus bertanya, apakah pelurunya akan jatuh di sini?” tuturnya.

Situasi yang memburuk turut berdampak pada ajang olahraga Asia Temggara yang tengah berlangsung. Kamboja memutuskan mundur dari SEA Games yang digelar di Thailand. Komite olimpiade Kamboja menyebut desakan keluarga atlet yang meminta mereka segera kembali ke negaranya.

Pertempuran Juli lalu berhasil dihentikan melalui mediasi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia selaku Ketua ASEAN. Pada Oktober, Trump menyokong deklarasi bersama lanjutan. Memamerkan kesepakatan dagang baru dengan kedua negara setelah mereka menyetujui perpanjangan gencatan senjata. Namun, Thailand menangguhkan perjanjian itu sebulan kemudian.

Di Pennsylvania, Donald Trump menyebut konflik Kamboja dan Thailand sebagai salah satu isu internasional yang sedang dia tangani.

“Besok saya harus melakukan panggilan telepon, dan saya pikir mereka akan mengerti. Siapa lagi yang bisa mengatakan, saya akan menelepon dan menghentikan perang dua negara yang sangat kuat?,” ucap Trump.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *