Beritaempire.com, Jakarta – Lo Kheng Hong Borong Saham GJTL, Kepemilikan Tembus 6%. Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan sahamnya di PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi pembelian tersebut dilakukan pada 23 Februari 2026.
Dalam aksi tersebut, Lo Kheng Hong memborong 1.398.400 lembar saham GJTL dengan harga Rp1.095 per lembar. Dengan demikian, dana yang digelontorkan dalam transaksi ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
“Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan saham secara langsung,” kata manajemen.
Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Lo Kheng Hong di emiten produsen ban tersebut ikut meningkat. Kepemilikannya naik dari 208.500.100 lembar saham atau setara 5,98%, menjadi 209.898.500 lembar saham atau sekitar 6,02%.
Saham GJTL pada perdagangan Rabu (11/3) ditutup turun -0,48% ke level Rp1.040. Dalam sepekan, merosot -1,42% dan terkoreksi -2,8% sepanjang sebulan terakhir.
Produsen Ban Terbesar
Sebagai informasi, PT Gajah Tunggal Tbk merupakan salah satu produsen ban terbesar di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini didirikan pada 1951 dan awalnya memulai bisnis dengan memproduksi ban sepeda.
Seiring waktu, perusahaan terus melakukan ekspansi lini produk. Pada 1971, Gajah Tunggal mulai memproduksi ban sepeda motor, kemudian pada 1981 merambah produksi ban bias untuk mobil penumpang dan kendaraan komersial. Memasuki awal 1990-an, perusahaan mulai memproduksi ban radial untuk mobil penumpang maupun truk.
Saat ini, Gajah Tunggal memproduksi serta mendistribusikan berbagai jenis ban berkualitas tinggi, mulai dari mobil penumpang, SUV/truk ringan, kendaraan off-road, hingga sepeda motor. Selain itu, Perseroan juga memproduksi berbagai produk turunan karet lainnya seperti karet sintetis, benang ban, ban dalam, flap, hingga o-ring.

Akumulasi Pembelian Dalam Sebulan
Jika ditelusuri lebih detail, aktivitas akumulasi berlangsung hampir sepanjang bulan. Pada 30 Maret, ia membeli 150.000 saham sebanyak dua kali. Lalu pada 27 Maret, ia mengakumulasi dalam jumlah besar yakni 5 juta saham. Sebelumnya lagi, terdapat pembelian 80.000 saham pada 17 Maret serta 350.000 saham pada 3 Maret.
Tren belanja saham ini bahkan sudah dimulai sejak Februari 2026. Pada 25 Februari, Lo Kheng Hong tercatat membeli 1.398.400 lembar saham GJTL. Jumlah yang sama juga diborong pada 23 Februari, disertai sejumlah pembelian lain sejak Januari yang secara konsisten menambah porsi kepemilikannya.
Dengan konsistensi akumulasi tersebut, posisi Lo Kheng Hong di saham GJTL terus menguat, mencerminkan keyakinannya terhadap prospek jangka panjang emiten tersebut.
Di lantai bursa, saham GJTL ditutup turun -1,35% ke Rp1.095 pada perdagangan Selasa (7/4). Dalam sepekan terakhir, sahamnya tercatat menanjak 3,79% dan melesat 4,78% sepanjang tahun berjalan.
Sebagai informasi, PT Gajah Tunggal Tbk merupakan salah satu produsen ban terbesar di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini didirikan pada 1951 dan awalnya memulai bisnis dengan memproduksi ban sepeda.
Seiring waktu, perusahaan terus melakukan ekspansi lini produk. Pada 1971, Gajah Tunggal mulai memproduksi ban sepeda motor, kemudian pada 1981 merambah produksi ban bias untuk mobil penumpang dan kendaraan komersial. Memasuki awal 1990-an, perusahaan mulai memproduksi ban radial untuk mobil penumpang maupun truk.
Saat ini, Gajah Tunggal memproduksi serta mendistribusikan berbagai jenis ban berkualitas tinggi, mulai dari mobil penumpang, SUV/truk ringan, kendaraan off-road, hingga sepeda motor. Selain itu, Perseroan juga memproduksi berbagai produk turunan karet lainnya seperti karet sintetis, benang ban, ban dalam, flap, hingga o-ring.
Baca juga: Mulai Dari Hormon Hingga Stres Jadi Sebab Munculnya Jerawat
Kinerja Keuangan GJTL
Dari sisi kinerja keuangan 2025, Gajah Tunggal membukukan penurunan pendapatan secara tahunan dari Rp18,02 triliun pada 2024 menjadi Rp17,66 triliun per akhir Desember 2025. Kendati demikian, GJTL mampu membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada tahun lalu. Realisasi bottom line perseroan naik 4,7% dari Rp1,18 triliun pada 2024 menjadi Rp1,24 triliun pada 2025.
Adapun, Manajemen Gajah Tunggal dalam paparan publik pertengahan Juni 2025 mengungkapkan deretan strategi perseroan, salah satunya menangkap tren pabrikan mobil China di Indonesia. “Untuk pabrikan mobil China untuk BYD, perusahaan sudah kerjasama dengan BYD dengan menggunakan salah satu brand perusahaan yaitu GITI,” tulis Manajemen Gajah Tunggal dalam laporan paparan publik yang dikutip Selasa (29/7/2025).
Terkait dengan rencana ekspansi, Gajah Tunggal menyatakan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$150 juta. Dari situ, sebagian besar digunakan untuk pengembangan lini truck and bus radial (TBR). “Sebagian pendanaan dengan drawdown pinjaman dari sindikasi bank yang dilakukan secara bertahap sampai dengan pembelian mesin selesai,” pungkas manajemen.



