Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan langkah strategis untuk memperkuat struktur organisasinya di penghujung tahun 2025. Melalui kebijakan terbaru, terjadi sebuah Mutasi Besar Kapolri yang melibatkan total 1.086 personel di berbagai tingkatan jabatan. Keputusan ini tertuang dalam lima Surat Telegram (ST) resmi yang diterbitkan pada pertengahan Desember 2025 oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo.1 Rotasi jabatan ini mencakup perwira tinggi (Pati) hingga perwira menengah (Pamen) di tingkat Mabes Polri maupun wilayah Polda di seluruh Indonesia. Langkah masif ini dinilai sebagai bagian dari upaya penyegaran kepemimpinan serta persiapan menghadapi tantangan keamanan pada tahun 2026 mendatang. Masyarakat luas memberikan perhatian khusus terhadap pergeseran ini karena melibatkan banyak nama penting di posisi-posisi krusial. Selain itu, mutasi kali ini juga membawa angin segar bagi kesetaraan gender di institusi kepolisian.
Angka 1.086 personel bukanlah jumlah yang kecil untuk sebuah rotasi jabatan dalam satu waktu. Hal ini menunjukkan komitmen pimpinan Polri dalam melakukan evaluasi kinerja secara menyeluruh di seluruh lini. Para personel yang mendapatkan penugasan baru diharapkan mampu membawa inovasi dan semangat baru di tempat tugas mereka masing-masing. Fokus utama dari perombakan ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme dan responsivitas kepolisian terhadap dinamika sosial yang berkembang. Proses transisi ini dipastikan akan berjalan secara sistematis agar tidak mengganggu pelayanan publik yang sedang berjalan.
🎯 Fokus Strategis di Balik Mutasi Besar Kapolri
Setiap keputusan rotasi dalam institusi Polri tentu memiliki landasan pertimbangan yang sangat matang secara manajerial. Ada beberapa tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan Mutasi Besar Kapolri pada periode penghujung tahun ini.
1. Pembinaan Karier dan Penyegaran Organisasi
Salah satu alasan fundamental dilakukannya rotasi adalah untuk memberikan kesempatan pengembangan karier bagi para perwira berprestasi. Banyak personel yang mendapatkan promosi jabatan setingkat lebih tinggi atas dedikasi mereka selama ini. Selain itu, penyegaran organisasi diperlukan agar tidak terjadi stagnasi kepemimpinan di suatu wilayah atau unit kerja. Dengan adanya wajah-wajah baru, ide-ide segar dalam penanganan masalah kriminalitas diharapkan dapat muncul secara lebih efektif. Karopenmas Divhumas Polri menegaskan bahwa mutasi adalah hal yang wajar dan merupakan kebutuhan organisasi yang dinamis.2
2. Penguatan Kinerja Menjelang Tahun Baru
Menjelang pergantian tahun, potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) biasanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dengan melakukan Mutasi Besar Kapolri sekarang, pejabat baru memiliki waktu untuk melakukan pemetaan wilayah sebelum puncak perayaan tahun baru. Penguatan di tingkat wilayah seperti Polda dan Polres menjadi prioritas agar pengamanan berjalan lebih optimal. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat luas. Profesionalisme anggota di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas nasional di masa transisi kepemimpinan negara.
📋 Daftar Jabatan Penting dalam Mutasi Besar Kapolri
Dalam daftar panjang rotasi kali ini, terdapat beberapa posisi strategis yang sangat menarik untuk disimak. Perubahan kepemimpinan di tingkat kewilayahan sering kali menjadi indikator arah kebijakan operasional Polri di daerah tersebut.
[Tabel: Ringkasan Jabatan Strategis Hasil Mutasi Desember 2025]
| Nama Pejabat | Jabatan Baru | Keterangan |
| Irjen Pol Edy Murbowo | Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) | Menggantikan Irjen Pol Hadi Gunawan |
| Brigjen Pol Dr. Sulastiana | Wakapolda Papua Barat | Promosi Polwan di wilayah strategis |
| Brigjen Pol Hengki Haryadi | Wakapolda Riau | Pergeseran posisi dari Wakapolda sebelumnya |
| AKBP Yunita Stevani | Kapolres Karimun | Bagian dari 6 Polwan jadi Kapolres |
Salah satu yang paling menonjol dari Mutasi Besar Kapolri kali ini adalah pemberian kepercayaan lebih kepada Polisi Wanita (Polwan). Sebanyak 35 personel Polwan mendapatkan promosi jabatan, termasuk penunjukan Brigjen Pol Sulastiana sebagai Wakapolda Papua Barat. Selain itu, ada enam perwira Polwan yang dipercaya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) di berbagai daerah.3 Langkah ini membuktikan bahwa kompetensi dan integritas menjadi parameter utama dalam penentuan jabatan, tanpa memandang gender. Hal ini juga mendapatkan apresiasi positif dari berbagai aktivis hak asasi manusia dan kesetaraan gender di Indonesia.
🛡️ Reformasi Internal dan Penguatan Organisasi
Selain perpindahan personel, mutasi ini merupakan bagian dari agenda reformasi birokrasi Polri yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit, Polri terus berupaya menjadi institusi yang lebih transparan dan akuntabel.
Optimalisasi Pelayanan Publik
Pejabat yang baru dilantik diberikan tanggung jawab besar untuk memastikan kualitas pelayanan di daerahnya tetap terjaga. Mereka dituntut untuk lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menyelesaikan konflik secara humanis namun tetap tegas. Evaluasi rutin akan dilakukan untuk melihat sejauh mana perubahan kepemimpinan ini berdampak pada kepuasan masyarakat. Transformasi menuju Polri yang “Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) terus diperkuat melalui penempatan orang yang tepat di posisi yang tepat.
Menghadapi Tantangan Keamanan Modern
Kejahatan siber dan transnasional menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh jajaran Polri saat ini. Oleh karena itu, mutasi ini juga menyasar direktorat-direktorat khusus di Mabes Polri agar lebih tangguh dalam menangani isu tersebut. Personel yang memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi banyak yang ditempatkan di posisi strategis. Hal ini dilakukan agar Polri tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi yang sering disalahgunakan oleh para pelaku kriminal. Sinergi antar unit kerja juga diperkuat agar penanganan kasus-kasus besar dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Mutasi Besar Kapolri yang melibatkan 1.086 personel ini adalah langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan upaya mendalam untuk memperkuat pondasi institusi Polri demi keamanan nasional. Keberanian Kapolri dalam mempromosikan banyak Polwan di posisi strategis patut diacungi jempol sebagai bentuk kemajuan institusi. Masyarakat kini menunggu aksi nyata dari para pejabat baru dalam memberikan perlindungan dan pelayanan terbaik. Dengan kepemimpinan yang segar dan profesional, diharapkan Polri dapat semakin dicintai dan dipercaya oleh seluruh rakyat Indonesia. Mari kita dukung transisi ini demi terciptanya Indonesia yang lebih aman, tertib, dan kondusif bagi semua.
Baca juga:




